v

Belajar Kehidupan dari Hukum Alam

Advertisemen

Alam semesta ini penuh dengan keseimbangan dan beroperasi dengan sangat teratur. Kita dapat menyaksikan ada siang dan ada malam, ada bulan dan ada matahari, planet-planet selalu berjalan pada orbitnya, dan sebagainya. Sejak awal alam semesta ini diciptakan, Tuhan telah menetapkan semua prosedur serta mekanisme kerja dengan sangat teliti, sangat akurat, dan sangat sempurna yang kita kenal sebagai hukum alam. Hukum alam bekerja otomatis terlepas kita mengetahui atau tidak. Seperti misalnya hukum gravitasi newton, bahwa setiap benda akan ditarik dan jatuh ke bumi, terlepas kita mengetahui apa tidak hukum gravitasi tersebut, maka hukum tersebut akan berlaku.



Yang perlu kita garis bawahi dari semua hukum alam adalah bahwa hukum alam tidak pernah pandang bulu. Percaya atau tidak hukum alam akan selalu bekerja dan semua hal yang ada di alam pasti akan mengalami konsekuensi yang sama. Dengan demikian, hukum alam tidak mungkin kita lawan, karena hukum alam sekaligus juga sebagai hukum yang mengatur jalannya roda kehidupan manusia. Sekurang-kurangnya ada tiga hukum alam yang harus kita pahami agar kita dapat menggunakan pikiran dan emosi kita dengan benar (Byrne, 2010).


Pertama adalah hukum gema/gaung. Hukum gema atau gaung ini berbunyi, ”Alam semesta selalu akan memantulkan apapun yang ada dalam pikiran dan perasaan kita dengan kekuatan berlipat ganda”. Sebagai ilustrasi, bayangkan kita naik ke puncak sebuah bukit dan kemudian berteriak ke arah lembah. Suara kita pasti akan memantul kembali kepada kita secara berulang-ulang. Jika kita meneriakkan kata “malam” maka kata “malam” itulah  yang akan kita dengar kembali berkali-kali. Semakin kuat kita berteriak, suara kita akan terdengar sama, semakin keras, dan semakin banyak diulang-ulang.


Hal ini akan sama halnya jika kita menciptakan pikiran dan perasaan negatif, maka sudah pasti alam semesta akan memantulkan kembali hal tersebut kepada kita berulang-ulang. Jika kita berpikir negatif, misalnya kurang bersyukur, selalu mengeluh, berprasangka buruk, memaki, pesimis, saya bodoh, dan lain sebagainya maka hal itu pula yang akan terjadi dalam kehidupan kita. Begitu pula sebaliknya, jika hari ini kehidupan kita tidak menyenangkan, maka segera cek pikiran dan perasaan kita, karena itulah sumber masalahnya.


Kedua adalah hukum daya tarik (law of attraction). Hukum daya tarik ini berbunyi “Setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, sesungguhnya kita sendiri yang menariknya ke dalam kehidupan kita”. Hal penting yang harus kita pahami menurut hukum daya tarik adalah tidak ada yang namanya kebetulan. Setiap peristiwa apapun kita turut andil dalam menciptakannya. Misalnya, Anda sedang memikirkan seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa dan kemudian tiba-tiba teman Anda tersebut menelepon Anda atau bahkan bertemu secara tidak sengaja di suatu tempat. Itu adalah salah satu contoh bukti keberadaan hukum daya tarik.


Jika dalam hidup keseharian kita selalu menciptakan pikiran dan perasaan positif, maka kita akan menarik kejadian-kejadian yang positif. Sebaliknya, jika kita selalu menciptakan pikiran dan perasaan negatif maka kita pasti akan menarik peristiwa dan kejadian yang negatif. Konsekuensi lain berkenaan dengan adanya hukum daya tarik adalah apapun yang kita inginkan atau doakan sebenarnya pasti akan menjadi kenyataan. Dengan catatan kita sudah mengikuti aturan main yang berlaku.


Jika permintaan atau doa kita tidak terkabul, maka penyebabnya adalah diri kita sendiri. Tidak terkabulnya doa juga bisa diakibatkan karena kita tidak yakin dengan apa yang kita inginkan. Yakini bahwa apa yang kita inginkan pasti dikabulkan. Apa yang kita doakan secara lisan belum tentu sesuai dengan apa yang ada di dalam hati dan tindakan kita. Ingat yang akan dikabulkan adalah apa yang ada di dalam pikiran, perasaan, dan tindakan kita. Jika kita meminta dengan kata-kata negatif, seperti “saya tidak mau miskin” maka yang akan terjadi adalah justru yang kita hindari.


Kalimat “saya tidak mau gagal” akan membuat kita membayangkan seperti apa rasanya menjadi orang gagal. Apa yang kita bayangkan itulah yang akan terjadi dan apa yang kita bayangkan akan dipicu oleh kata atau kalimat yang kita gunakan. Dalam meminta kita harus gunakan kata-kata dan kalimat positif, seperti misalnya “saya ingin berhasil”. Harapannya dengan kata-kata dan kalimat yang positif maka kita lebih fokus untuk membayangkan hal-hal yang positif.

Terkadang doa kita tidak terkabul diakibatkan karena permintaan kita tidak spesifik atau tidak jelas. Misalnya, kalau kita meminta “saya ingin lulus ujian”. Kemudian yang terjadi kita benar-benar lulus ujian. Tetapi, ternyata nilai kita minimum. Ini disebabkan karena kita hanya ingin lulus, bukan mendapatkan nilai terbaik. Tuhan memiliki rencana yang lebih baik untuk kita. Ingat bahwa apa yang kita inginkan belum tentu itu benar-benar yang terbaik di masa mendatang atau bisa juga karena di mata Tuhan kita belum siap untuk menerima apa yang kita minta (ditunda).


Mintalah apa yang kita inginkan dan selalu syukuri apa yang telah Tuhan berikan. Jika kita banyak bersyukur, maka justru kita akan banyak diberi anugerah dan rejeki lebih banyak. Jika kita tidak pernah atau sedikit diberi mungkin selama ini kita kurang bersyukur dan kurang memberi. Adanya jeda waktu antara permintaan kita dan realisasinya memberikan kita kesempatan untuk mengkaji ulang apakah yang kita minta adalah sesuatu yang benar-benar menguntungkan kita. Ingat setiap detik kita berpikir dan merasa. Itu berarti setiap detik sebenarnya kita selalu meminta, sadar maupun tidak kita sadari.


Semuanya membutuhkan proses meskipun hanya satu per seribu detik. Misalnya, seorang wanita ingin sekali punya anak, mana mungkin saat itu juga perut wanita itu membesar dan langsung melahirkan. Tentunya wanita tersebut harus menikah dulu kemudian hamil selama 9 bulan, baru kemudian memiliki anak. Adanya waktu jeda atau penundaan adalah sebuah kodrat dari cara kerja alam semesta.


Ketiga adalah hukum sifat energi. Hukum ini berbunyi, “Energi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan. Ia hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lain”. Hukum sifat energi tidak hanya berlaku dalam ilmu fisika, tetapi hukum tersebut juga berlaku pula dalam kehidupan kita. Energi adalah bahan dasar apapun yang ada di alam semesta ini. Energi tersebut menjadi kenyataan dan berubah wujud menjadi kehidupan yang kita alami juga melalui sebuah medium. Mediumnya adalah pikiran dan emosi kita. Setiap kita memikirkan dan merasakan sesuatu maka sebenarnya kita sedang menyalurkan dan mengubah wujud energi yang ada di alam semesta ini menjadi sebuah wujud konkret.


Jika kita membayangkan kesulitan maka energi akan menjelma menjadi kesulitan. Jika kita membayangkan masalah maka energi akan menjadi masalah yang nyata. Jika kita memikirkan kemudahan, maka energi alam akan menjadi kemudahan. Jika kita membayangkan solusi, maka energi alam akan menjadi solusi. Kesimpulannya, jika kita membayangkan sesuatu yang negatif, maka energi alam semesta akan menjelma menjadi sesuatu yang negatif. Jika kita membayangkan sesuatu yang positif maka energi alam semesta akan menjelma menjadi sesuatu yang positif.


Kita harus berhati-hati dengan apapun yang kita pikirkan dan rasakan. Pikiran dan emosi kita akan selalu direspons oleh hukum alam kemudian membentuk kehidupan kita. Hukum alam diciptakan Tuhan dengan tujuan untuk membantu kita, tetapi jika kita salah menggunakannya maka hukum alam itu justru akan melukai kita. Mau tidak mau kita harus mempercayai hal itu. Sebab kita mau percaya atau tidak, mau mengikuti atau tidak, kita akan selalu terkena dampaknya.


Sumber; harianbernas.com
Advertisemen

Disclaimer: Gambar, artikel ataupun video yang ada di web ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.
Related Posts
Disqus Comments
Blog Demo